Menonton “Hindi Medium” sama halnya melihat kesamaan ironi pendidikan di India dan Indonesia. Branding dan labelling sekolah internasional bagi kaum tajir, biaya pendidikan sekolah elit yang luar biasa mahal, orangtua yang minder gara-gara anaknya tidak bisa berbahasa Inggris, antre dinihari demi mengambil formulir pendaftaran anak, kecurangan sistem rekrutmen siswa, orangtua yang abai pada bakat anak, anak yang tertekan gara-gara obsesi ortu, timpangnya kondisi sekolah negeri dan swasta, dan kecerewetan seorang ibu yang khawatir masa depan anaknya.

Film ini bermula saat pasangan suami istri, Raj Batra (Irrfan Khan) dan Mita (Saba Qamar) yang berasal dari lingkungan menengah di Chandni Chowk, Delhi, ingin menyekolahkan anaknya, Pia (Dishita Shegal), 5 tahun, di sekolah favorit. Mereka rela pindah hunian di kawasan elit agar bisa hidup sebagaimana kehidupan orang kaya: mobil dan rumah mewah, anak yang cas-cis-cus bahasa asing, joging dan yoga secara rutin, liburan ke Eropa, pesta glamour dengan menyantap hidangan aneh bernama kaviar, dan tentu saja bisa menyekolahkan anaknya di sekolah internesyenel yang menggunakan nama enggres.

Sayang, anak kecil kesayangan ini gagal menembus berbagai sekolah enternesyenel. Mendatangi konsultan pendidikan rupanya juga bukan solusi bagi Raj dan Mita. Satu-satunya harapan agar bisa diterima di sekolah elit internesyenel adalah melalui jatah kuota 25% bagi kaum miskin. Dan, itu berarti akan menempuh kecurangan dan ketidakjujuran karena pura pura miskin.

Akhirnya, demi Pia, mereka rela pindah ke kawasan kumuh agar bisa mendapatkan surat keterangan miskin dari sekolah. Kehidupan yang mapan berganti dengan keterbatasan hidup di kawasan kumuh mereka jalani agar anaknya bisa lolos menjadi “siswa miskin”.

Di sinilah kekocakan dan kekonyolan bermula. Dan di situ pula pada akhirnya Raj Batra menemukan hakikat ketulusan dan esensi persaudaraan dari kaum miskin yang sebelumnya mereka remehkan. Bagaimana akhirnya? Silahkan tonton sendiri. Hahaha..asyik kok, film ini, gaes. Kalau mau merenungkan hakikat pendidikan usai menonton film ini juga tak mengapa, sebagaimana kita bisa merenungkan makna pendidikan bagi anak usai menonton “Taare Zameen Par”-nya Aamir Khan.

Akting Irrfan Khan sebagai Raj Batra, seperti biasanya, natural. Suami yang kikuk berhadapan dengan istri yang cerewet, ayah yang nekat demi putri tersayang, dan pria yang melankolis. Gabungan tipikal ini dia perankan dengan alami. Mengalir apik. Dia tak perlu mengganteng-nggantengkan diri. Tidak usah. Sebab keunggulannya bukan pada paras, tapi aktingnya. Sebagaimana aktor Bollywood lain yang wajahnya nggak ketje tapi oke: Nawazuddin Shiddiqui, Kay Kay Menon, dan yang lebih senior, tuan Nana Patekar.

Di antara Dinasti Khan di Bollywood: Shah Rukh, Salman, Aamir, Saif Ali dan Fardeen; jelas si Irrfan kalah telak nggantengnya. Wajahnya memang ndeso, tapi rejeki kutho, kata Thukul Arwana. Sebab, Irrfan ini justru lebih banyak nongol di film buatan Hollywood, dari Life of Pi, The Amazing Spiderman, Jurrasic World, hingga di lanjutan Da Vinci Code, Inferno, bareng Tom Hanks. Jangan heran kalau adik saya, markintul Nabilah, ngefans amit amit sama di Irrfan ini. Bhahaha….

Kembali soal pendidikan di India. “Hindi Medium” berhasil menggambarkan ironi pendidikan bukan hanya di negara tersebut saja, melainkan di negara lain bekas jajahan Eropa. Termasuk Indonesia. Bagaimana standar pendidikan hanya dilihat dari angka yang tertera di rapot, sekolah elit yang hanya berdasarkan istilah enggres dan melupakan hakikat kedirian siswa, siswa yang dipersiapkan menjadi pekerja industri yang membebek pada kapitalisme, pendidikan yang kehilangan esensinya gara-gara industrialisasi, hingga pada nalar inferior sebagai bangsa terjajah.

Saya berpikir, andaikata pemeran Raj Batra diserahkan kepada Shah Rukh Khan dan naskah film ini digarap oleh sutradara Karan Johar, kemudian ditangani Aditya Chopra sebagai produser, aransemen musiknya ditangani Jatin-Lalit, niscaya kita menemukan melankolisme ala Kuch Kuch Hota Hai maupun garapan Karan Johar lainnya yang menonjolkan unsur sentimentil.

Adegan saat tetangga miskin yang baik hati, Shyam Prasad (Deepak Dobriyal), mendatangi rumah mewah Raj Batra di kawasan elit, bisa menjadi alur emosional yang dikemas dengan gaya slow motion yang menggabungkan keterkejutan, emosi, dan tangis kebahagiaan, sebagaimana ciri khas gaya penyutradaraan Karan Johar. Tapi, lupakan saja. “Hindi Medium” ini bukan garapan Johar dan dinasti Yash Chopra, ini adalah hasil karya Saket Chaudhary yang mengalir alami.

Di film ini, yang agak mengganggu hanyalah pidato filosofis Raj Batra di hadapan kepala sekolah dan para orangtua di akhir film. Terlalu monoton dan sama anehnya dengan pidato Steven Seagal di film On Deadly Ground saat pendekar Aikido berkuncir ekor kuda ini menyampaikan khutbah soal lingkungan hidup di depan anggota parlemen Alaska dan para tetua suku Indian. Hmmmmm….

Akhirnya, duhai tuan-tuan dan para nyonya sekalian, biar tidak bertele-tele, silahkan nikmati saja “Hindi Medium”. Siapa tahu, sebagai orangtua yang punya anak usia sekolah, kita semua diam-diam sepemikiran dan sama konyolnya dengan pasangan Raj dan Mita. Bisa saja, bukan?

Jangan lupa, tadi pagi kakeknya Jarjit Singh yang tinggal di Punjab menelepon saya dan menyarankan agar setelah “Hindi Medium”, kita bisa lanjut nonton film terbaik lainnya, “Dhanak”.

Oleh: Rijaldo