Tak bisa dipungkiri industri gula sebagai salah satu industri terbesar di dunia menghasilkan limbah padat, gas dan cair yang besar pula. Setidaknya industri gula dengan kapasitas giling 12.000 ton tebu per hari bisa menghasilkan limbah cair sebanyak 6.000 m3 per hari. Sayangnya, belum semua pelaku industri gula melakukan pengelolaan air limbah yang baik sehingga bisa dibayangkan banyaknya limbah cair yang dibuang di saluran air.

Pengolahan Air Limbah Secara Terpadu Pada Industri Gula

Limbah cair pabrik gula seperti air bekas cucian evaporator, buangan ketel, air kondensor, tumpahan nira dan lainnya setidaknya mengandung COD sebanyak 100mg/l hingga 700mg/l. Kandungan ini bisa bervariasi untuk setiap pabrik tergantung dari kondisi peralatan, cara pengolahan dan kebersihan masing-masing pabrik. Dalam kadar tertentu air limbah industri gula juga memiliki kandungan BOD tinggi, berwarna kecokelatan, berbau serta kaya akan residu padat. Untuk menurunkan kadar zat berbahaya dalam air limbah tersebut perlu dilakukan pengolahan limbah terpadu.

Pengolahan limbah terpadu ini kami rangkum dari IPALBioRich.com yang merupakan aktivitas pengurangan, segregasi, penganangan, pemanfaatan dan pengolahan limbah. Proses pengolahan limbah terpadu ini tak hanya mengurangi output limbah tercemar, tapi juga untuk menekan biaya pengelolaan limbah. Dengan demikian, hasil akhir dari pengolahan air limbah bisa dipakai kembali untuk berbagai keperluan perusahaan. Setidaknya ada tiga jenis proses pengolahan air limbah industri gula, yakni pengolahan fisika, biologi dan kimia.

Pada proses pengolahan secara fisika, air limbah akan diberi perlakuan fisik seperti disaring, diendapkan dan diatur suhunya agar sesuai untuk proses selanjutnya. Pada proses pengolahan secara biologi, air limbah tersebut akan diberi perlakuan biologi seperti penguraian dan penggabungan substansi biologi menggunakan lumpur aktif serta kombinasi proses aerobik dan anaerob. Sedangkan pada proses pengolahan kimia, air limbah akan diberi bahan kimia agar menghasilkan reaksi tertentu sehingga bersih dari partikel polutan.

Ketiga metode tersebut mampu menghasilkan output air limbah yang bersih dan sesuai dengan batas mutu air bersih yakni tidak berbau, rendah BOD dan COD, bebas zat kimia berbahaya dan memiliki pH normal. Air hasil pengelolaan ini biasanya digunakan kembali untuk mengairi perkebunan tebu atau digunakan untuk air produksi. Meski efektif, penerapan masing-masing metode harus disesuaikan dengan ketersediaan dana dan lahan yang dimiliki oleh perusahaan. Hal ini demi menghindari meningkatnya beban perusahaan.